Pemanfaatan Data Analytics dalam Pengambilan Keputusan Lembaga Penjaminan Mutu

Dalam era digital yang semakin maju dan perkembangan Dunia Pendidikan  yang semakin pesat telah mendorong Perguruan Tinggi menghadapi tantangan dan juga peluang yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kompetisi yang semakin ketat, perubahan perilaku konsumen, dan ekspetasi pasar yang terus berkembang menuntut Perguruan Tinggi untuk terus berinovasi guna meningkatkan efisiensi operasional dan kepuasan dari pelanggan. Penggunaan data analytics dalam hal ini dapat membantu Perguruan Tinggi untuk melakukan pengambilan keputusan dengan lebih baik.

perguruan tinggi yang ada di Indonesia, hanya 2494 perguruan tinggi yang terakreditasi. Perguruan tinggi yang terakreditasi A sejumlah 83 perguruan tinggi, dilanjut yang terakreditasi B sejumlah 750 perguruan tinggi, dan 919 perguruan tinggi yang terakreditasi C. Perguruan tinggi yang diakreditasi dengan menggunakan IAPS 4.0 dan IAPT 3.0. hanya 15 perguruan tinggi yang mendapatkan predikat unggul, 104 perguruan tinggi mendapat predikat baik sekali, dan 623 mendapatkan predikat baik. Data tersebut bisa dikatakan bahwa terdapat lebih dari 40 persen perguruan tinggi yang belum terakreditasi. Hal ini membuktikan bahwa mutu perguruan tinggi di Indonesia masih harus dibenahi. Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT) menetapkan standarisasi yang dianjurkan pada setiap perguruan tinggi untuk memperbaiki mutu pendidikannya. Standarisasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan mutu perguruan tinggi sehingga pola penjaminan mutu, baik itu internal atapun eksternal bisa sesuai dengan permenristekdikti Nomor 62 Tahun 2016 tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi (SPM Dikti). Selain itu, berdasarkan data yang dikeluarkan oleh lembaga pemeringkatan pendidikan tinggi dunia seperti QS World University Ranking (QS WUR) perguruan tinggi di Indonesia belum ada yang berada di peringkat 100 dunia. Bahkan pada Times Higher Education World University Ranking (THE WUR) perguruan tinggi indonesia tidak ada yang berada di peringkat 100 besar dunia bahkan Asia. Universitas Indonesia (UI) yang merupakan perguruan tinggi terbaik di Indonesia saja tidak masuk ke peringkat 200 besar. Dapat dibayangkan level perguruan tinggi lainnya yang berada di bawah Universitas Indonesia. 

Dengan pertumbuhan jumlah perguruan tinggi dan jumlah mahasiswa yang semakin meningkat seiring dengan tuntutan untuk menjaga dan meningkatkan mutu pendidikan tinggi yang juga makin besar, maka diperlukan kebijakan-kebijakan yang konkrit dan mendukung dari para pemangku kepentingan. Inilah yang menjadi tantangan bagi salah satu universitas di Indonesia, yaitu Universitas Brawijaya, dan Universitas Indonesiayang merupakan salah satu perguruan tinggi dengan mahasiswa terbanyak di Indonesia. menjadi universitas nomor satu pendaftar Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) terbanyak pada tahun 2023. Banyaknya calon mahasiswa yang ingin menempuh pendidikan.

Untuk meningkatkan mutu atau kualitas pada perguruan tinggi dibutuhkan peran lembaga penjaminan mutu di setiap perguruan tinggi atau universitas. agar Terwujudnya good university governance dan budaya mutu melalui implementasi sistem manajemen mutu berbasis risiko di tingkat universitas, fakultas, departemen dan program studi, serta supporting units,

Hal tersebut sejalan dengan survei BPS pada tahun 2021 menunjukkan bahwa Perguruan Tinggi di Indonesia sudah 30% mulai menggunakan data analytics untuk mendukung pengambilan keputusan. Studi BPS lebih lanjut mengungkap bahwa perusahaan yang memanfaatkan data analytics mampu meningkatkan efisiensi operasional hingga 30% dan mengurangi biaya produksi sampai 25%. Selain itu, data BPS juga menyebutkan bahwa Perguruan Tinggi yang menerapkan data analytics dapat meningkatkan Animo Mahasiswa rata-rata 18% dan memperluas pangsa pasar hingga 15%. Dan berdasarkan data di THE World University Ranking mengalami penurunan peringkat yang kampus ternama di Indonesia cukup signifikan. Pada tahun 2021,. Dalam pemeringkatan oleh THE World University Rankings 2023, terdapat 1799 perguruan tinggi dari 104 negara yang dinilai.

Melihat perolehan Peringkat Kampus di Indonesia data analisis menjadi penting, Data analytics itu sendiri didefinisikan sebagai serangkaian proses, alat, dan teknologi yang membantu mengelola data kualitatif dan kuantitatif untuk memungkinkan penemuan, menyederhanakan organisasi, mendukung tata kelola, dan menghasilkan wawasan bagi bisnis (BasuMallick, 2022). Dalam dunia pendidikan, pengambilan keputusan yang tepat dan akurat sangat penting untuk dapat menjaga perkembangan dan masa depan Perguruan Tinggi. Data yang lengkap dan akurat tersebut dapat membantu dalam memahami tren pasar, perilaku konsumen, kebutuhan pasar, dan potensi Perguruan Tinggi sehingga memudahkan dalam mengembangkan strategi pemasaran yang tepat sasaran (Sugiana & Musty, 2023). 

Dengan memanfaatkan data analytics dalam promosi, Perguruan Tinggi dapat mengidenfikasi tren, pola dan wawasan yang sebelumnya tersembunyi, yang kemudian digunakan untuk memperbaiki sistem secara menyeluruh, melakukan riset pasar yang lebih efektif, dan memahami pasar serta pesaing dengan lebih mendalam. Data analytics memungkinkan Perguruan Tinggi untuk menganalisis data secara real-time, mengidentifikasi peluang baru, dan mengoptimalkan strategi promosi serta operasional. Oleh karena itu, data analytics sangat membantu dalam mengambil keputusan bisnis yang lebih efektif dan tepat waktu, sehingga dapat meningkatkan keunggulan kompetitif perusahaan di tengah ketatnya persaingan bisnis. Perguruan Tinggi dengan kemampuan memanfaatkan data analytics dengan baik tidak hanya dapat merespon perubahan pasar dengan cepat, tetapi juga aktif dalam menciptakan inovasi yang berkelanjutan. 

Namun, meskipun manfaatnya sudah jelas, dalam implementasi data analytics juga tentu tidak terlepas dari tantangan. menghadapi beberapa hambatan yang signifikan dalam proses penerapan data analytics. Tantangan utama yang dihadapi meliputi belum adanya tim data sehingga menghambat proses pengumpulan, pengolahan, dan analisis data. Selain itu, database yang digunakan oleh Perguruan Tinggi belum direplikasi, yang berarti bahwa data belum disimpan secara aman yang dapat mengakibatkan risiko kehilangan data dan kurangnya keandalan dalam akses data. Tantangan lain yang dihadapi yaitu belum dibangunnya environment arsitektur data yang memadai untuk mendukung operasi data analytics, sehingga kemampuan perusahaan untuk melakukan pengelolaan dan analisis data dalam skala besar pun mengalami keterbatasan. 

Tantangan-tantangan tersebut perlu diatasi untuk dapat meraih manfaat penuh dari teknologi data analytics. Dengan memanfaatkan berbagai strategi yang komprehensif dan langkah-langkah praktis yang dapat diterapkan dalam jangka pendek dan panjang, Perguruan Tinggi dapat memaksimalkan potensi data analytics untuk dapat melakukan peningkatan dari segi efisiensi operasional, pengurangan biaya, dan peningkatan kepuasan pelanggan. Pada akhirnya, akan mampu bersaing lebih efektif di pasar yang terus berubah serta mencapai pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.

melakukan eksplorasi manfaat dari penggunaan data analytics di Perguruan Tinggi dan bagaimana penerapan teknologi ini berdampak pada berbagai aspek operasional dan strategis pendidikan. Secara khusus, mengindentifikasi manfaat utama dari penggunaan data analytics di Perguruan Tinggi, mengeksplorasi bagaimana data analytics digunakan dalam berbagai fungsi menilai dampak data analytics terhadap efisiensi pengambilan keputusan operasional serta kepuasan pelanggan, dan mengidentifikasi tantangan yang dihadapi dalam implementasi data analytics dan cara mengatasinya.

Dengan demikian, diharapkan dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam pemahaman tentang peran dan manfaat data analytics dalam Perguruan Tinggi. Selain itu, juga diharapkan dapat membantu perusahaan dalam mengoptimalkan penggunaan teknologi ini untuk mencapai tujuan Perguruan Tinggi. Lebih jauh, hasil penelitian ini juga dapat memberikan wawasan bagi perusahaan lain yang ingin menerapkan data analytics sebagai bagian dari strategi bisnis, 

Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) memiliki peran penting dalam memastikan standar kualitas di berbagai sektor, termasuk pendidikan, industri, dan layanan publik. Dalam era digital, pemanfaatan data analytics menjadi krusial untuk meningkatkan efektivitas pengambilan keputusan dan mendukung perbaikan berkelanjutan. Analisis data bukan sekadar alat untuk memahami masa lalu, tetapi juga kunci dalam meramalkan tren masa depan dan mengambil keputusan yang lebih cerdas. Dengan pemanfaatan data yang tepat, Perguruan Tinggi dapat meningkatkan efisiensi operasional, memberikan pengalaman yang lebih baik, serta membuat strategi mengolah mutu yang berbasis fakta. Di era digital ini, kemampuan analisis data bukan hanya menjadi keunggulan, tetapi juga kebutuhan bagi para profesional yang ingin tetap kompetitif.

Peran Data Analytics dalam Lembaga Penjaminan Mutu

Data analytics menjadi alat yang sangat berharga bagi Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) dalam meningkatkan kualitas pendidikan di institusi akademik. Dengan memanfaatkan data dari berbagai sumber dapat melakukan analisis mendalam untuk pengambilan keputusan berbasis data seperti : 

  • Survei Kepuasan 

Data yang dikumpulkan dari mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan mengenai layanan akademik dan non-akademik. Survey Kepuasan Masyarakat merupakan alat yang diharapkan mampu mengetahui tingkat kepuasan dan mendorong partisipasi masyarakat sebagai pengguna layanan dalam menilai kinerja Penyelenggara serta mendorong Penyelenggara untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan melakukan pengembangan melalui inovasi-inovasi Pelayanan Survei Kepuasan adalah kegiatan pengukuran tingkat kepuasan masyarakat atau pelanggan terhadap layanan yang diberikan. Survei ini dapat dilakukan untuk mengetahui tingkat kepuasan dan mendorong perbaikan kualitas layanan. 

  1. Survei Kepuasan Masyarakat (SKM) 

Digunakan untuk mengetahui tingkat kepuasan masyarakat terhadap pelayanan public, Hasilnya dapat digunakan untuk menilai kinerja pelayanan public, Dapat menjadi bahan untuk meningkatkan kualitas pelayanan, Dapat mendorong partisipasi masyarakat dalam menilai kinerja penyelenggara pelayanan

  1. Survei Kepuasan Pelanggan 

Digunakan untuk mengetahui tingkat kepuasan pelanggan terhadap produk atau layanan, Dapat digunakan untuk meningkatkan produk dan layanan, Dapat mendorong partisipasi pelanggan dalam menilai kinerja pengelol, Dapat mendorong untuk meningkatkan kualitas pelayanan. 

  • Hasil Audit Mutu Internal 

Evaluasi terhadap proses akademik, administrasi, dan standar operasional prosedur di institusi. temuan-temuan yang didapatkan dari proses audit yang dilakukan untuk memastikan kesesuaian pelaksanaan kegiatan dengan standar yang ditetapkan. Sehingga Memastikan kegiatan sesuai dengan prosedur dan standar yang ditetapkan, Meningkatkan mutu pendidikan secara berkelanjutan, Mengurangi risiko ketidaktercapaian standar atau penurunan kualitas, Mengidentifikasi area perbaikan dan mengambil tindakan koreksi yang diperlukan. Setelah  itu Hasil AMI berupa Temuan-temuan yang didapatkan dari proses audit, Laporan AMI yang disampaikan kepada pimpinan unit untuk tindak lanjut, Temuan yang belum diselesaikan akan terus dievaluasi hingga memenuhi persyaratan yang ditetapkan, Ringkasan dari laporan-laporan AMI dikumpulkan dalam bentuk Laporan Pelaksanaan AMI, Pelaksanaan AMI Melibatkan beberapa pihak, yakni pihak yang diaudit, auditor, ketua tim auditor, hingga penanggung jawab, Perguruan tinggi wajib mendokumentasikan setiap temuan untuk dilaporkan ke SPMI Lemabga penjamian Mutu

  • Kinerja Akademik 

Informasi mengenai nilai mahasiswa, tingkat kelulusan, dan angka putus kuliah. Atau hasil akhir yang dicapai siswa atau mahasiswa selama mengikuti pendidikan di suatu institusi. Kinerja akademik juga dapat diartikan sebagai indikator keberhasilan pembelajaran di kampus.  Kinerja akademik dapat diukur dengan:  Nilai rata-rata poin (GPA),  Nilai kursus, Skor tes, Sikap dan perilaku yang terkait dengan studi, seperti waktu belajar, motivasi, dan kemampuan untuk fokus pada tugas belajar, Pembelajaran akademis yang dirasakan yaitu kinerja yang dirasakan siswa pada tugas akademis dan pemahaman yang dirasakan, Manfaat mengukur kinerja akademik Membantu tenaga didikmengembangkan pembelajaran yang sesuai untuk mahasiswa, Meningkatkan keberhasilan pembelajaran Kampus, Prestasi akademik juga menjadi pencapaian mahasiswa setelah menyelesaikan kursus atau mata kuliah dari suatu institusi. Prestasi akademik diperoleh dari kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh mahasiswa secara resmi di kelas. 

  • Kinerja Dosen

Meliputi jumlah publikasi ilmiah, keterlibatan dalam penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat. Kinerja dosen adalah Evaluasi atau penilaian terhadap aspek pekerjaan dosen dalam lingkungan akademik. Penilaian kinerja dosen biasanya mencakup beberapa elemen, termasuk : Pengajaran, Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, Pengembangan Kurikulum, Pengembangan Diri, Pengelolaan dan Administrasi. Kinerja dosen dapat diukur dari perilaku nyata yang ditampilkan dosen dalam melaksanakan tugasnya. Kinerja dosen bertujuan Memastikan dosen memberikan kontribusi optimal dalam mencapai tujuan institusi pendidikan, Memberikan umpan balik konstruktif untuk membantu dosen meningkatkan kinerja kemudian Aspek yang dinilai Pengajaran, Penelitian, Pengabdian kepada masyarakat, Pengembangan kurikulum, Pengembangan diri, Pengelolaan dan administrasi

  • Tracer Study

Data tentang lulusan, seperti tingkat keberhasilan dalam dunia kerja dan relevansi pendidikan yang diterima dengan kebutuhan industri. survei atau penelitian ini  untuk melacak karier alumni perguruan tinggi. Tracer study juga disebut sebagai survey alumni atau survey “follow up”. Tujuan tracer study adalah Mengetahui bagaimana alumni menjalani masa transisi dari dunia kampus ke dunia kerja,  Mengetahui kontribusi perguruan tinggi terhadap kompetensi yang ada di dunia kerja, Mengetahui tingkat kepuasan alumni,Mengetahui hasil pendidikan yang dihasilkan oleh perguruan tinggi, Mengetahui apakah lulusan sudah sesuai dengan jurusan kuliah mereka. tracer study Manfaat Sebagai bahan evaluasi perguruan tinggi terhadap lulusan yang dihasilkan, Sebagai salah satu nilai tambah dalam proses akreditasi perguruan tinggi, Dapat memberikan informasi penting mengenai hubungan antara dunia pendidikan tinggi dengan dunia usaha dan industry, Dapat membantu dalam memperbaiki atau meningkatkan kualitas layanan pendidikan di masa mendatang, Dapat digunakan sebagai data base alumni perguruan tinggi  Tracer study dapat dilakukan setiap tahun sesuai dengan sasaran tracer yang telah ditetapkan

Analisis Data

Salah satu konsep penting dalam dunia yang semakin terdigitalisasi ini. Dalam era di mana data menjadi komoditas berharga, kemampuan untuk menganalisis dan memahami informasi yang terkandung dalam data adalah keterampilan yang sangat diperlukan. mengapa hal itu penting, dan bagaimana Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) dapat memanfaatkannya dalam berbagai konteks. proses sistematis untuk memeriksa, memilah, mengubah, dan menyajikan informasi yang berguna untuk mendukung pengambilan keputusan Lembaga. Proses ini melibatkan pengumpulan, pembersihan, transformasi, dan pemodelan data untuk menemukan pola, hubungan, dan informasi yang tersembunyi. Analisis data adalah proses sistematis untuk menguraikan, menginterpretasikan, dan mengolah data agar dapat diambil kesimpulan yang berharga. Ini adalah langkah kritis dalam mengubah data mentah menjadi informasi yang berguna. Proses analisis data melibatkan beberapa tahap, termasuk pengumpulan data, penyusunan data, pengolahan data, pengujian hipotesis, dan pembuatan laporan hasil. Analisis data merupakan salah satu skill penting yang wajib di kuasai oleh orang yang bekerja pada lembaga Penjaminan Mutu. Kenapa harus meguasai karena harus mengambil berbagai keputusan yang mendukung target Perguruan Tinggi salah satunya Akreditasi. Nah, analisis data dapat membantu lembaga mengambil keputusan secara tepat.

Supaya analisis data memberikan hasil yang efektif, perlu melakukannya dengan metode dan proses yang tepat. Lantas, metode analisis data apa saja yang bisa diterapkan secara komprehensif untuk mendapat Informasi dari hasil analisis data yang bisa digunakan untuk mengambil keputusan di Lembaga kampus. Dengan begitu, keputusan akan berbasis data sehingga bersifat lebih akurat. Prosedur analisis data membawa berbagai manfaat untuk menunjang performa Lembbaga  Penjaminan Mutu. Berikut ini beberapa manfaat analisis data:

1. Meningkatkan efisiensi dan produktivitas

Melalui proses analisis data, kamu bisa mengolah data dalam volume besar sekaligus menggunakan teknologi seperti artificial intelligence (AI). Hal ini bisa meningkatkan efisiensi kerja karena lebih hemat waktu dan tenaga. Ketika efisiensi kerja meningkat, produktivitas kerjamu juga akan meningkat.

2. Memperkuat pengambilan keputusan

Hasil analisis data bisa kamu gunakan sebagai bahan untuk mengambil keputusan terkait bisnis. Sebab, data-data tersebut bersifat akurat. Dengan begitu, keputusan yang kamu ambil akan sesuai dengan kondisi terkini di lapangan.

3. Meningkatkan pemahaman pelanggan

Analisis data bisa membantu kamu mengembangkan produk dan layanan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Caranya, kamu bisa mulai dengan mengumpulkan data-data penting terkait pelanggan, seperti data demografis dan kebiasaan belanja.

4. Mengidentifikasi peluang baru

Bisnis yang baik adalah bisnis yang tumbuh secara berkelanjutan. Wujudkan hal tersebut dengan mengidentifikasi peluang-peluang baru. Nah, supaya tidak salah langkah, lakukan analisis data terlebih dulu untuk mempelajari segmen atau tren pasar.

5. Mengurangi risiko dan kesalahan

Setiap keputusan pasti memiliki risiko. Namun, kamu bisa mengurangi risiko tersebut dengan menggunakan analisis data. Keputusan kamu bisa tepat sasaran dan minim risiko jika data-data yang kamu analisis diambil langsung dari lapangan.

Visualisasi dan Pelaporan

Visualisasi dan pelaporan adalah cara menyajikan data dan informasi, di mana visualisasi menggunakan gambar atau grafik, sedangkan pelaporan menyajikan data dalam bentuk laporan. 

Visualisasi

teknik yang mengubah data menjadi representasi visual, seperti diagram, grafik, infografis, peta, atau animasi sehingga Visualisasi data membantu memahami tren, pola, outlier, dan hubungan data, Visualisasi data juga dapat membantu membuat data yang kompleks lebih mudah dipahami, ditafsirkan, dan diambil wawasannya, Visualisasi data dapat membantu transfer informasi yang lebih efisien dalam kampus kepada  mahasiswa. 

Pelaporan

Pelaporan adalah cara menyajikan data dalam bentuk laporan, Pelaporan visual dapat membantu membuat keputusan yang lebih baik dengan lebih cepat, Pelaporan visual dapat membantu membuat data yang kompleks lebih mudah diakses, dipahami, dan dapat ditindaklanjuti,  Pelaporan visual dapat membantu mendukung pengambilan keputusan yang lebih baik dan mendorong keberhasilan bisnis, Visualisasi data dapat menjadi alat yang berharga untuk pelaporan keuangan. 

Agar hasil analisis lebih mudah dipahami dan diterapkan, LPM menggunakan berbagai alat visualisasi data, seperti Power BI dan Tableau. Dashboard interaktif memungkinkan pemantauan kinerja institusi secara real-time, sementara laporan dalam bentuk infografis membantu dalam menyajikan data dengan lebih menarik dan informatif kepada pemangku kepentingan.

Implementasi Keputusan Berbasis Data

Pengambilan keputusan dalam konteks organisasi dan manajemen sangat penting untuk dipahami, terutama di era digital yang ditandai dengan kemajuan teknologi dan ketersediaan data yang melimpah. Pengambilan keputusan adalah proses yang melibatkan pemilihan alternatif terbaik dari berbagai opsi yang tersedia, dan keputusan yang diambil dapat memiliki dampak yang signifikan terhadap kinerja Perguruan Tinggi, kesejahteraan karyawan, serta kepuasan pelanggan. Oleh karena itu, pemahaman yang mendalam tentang proses ini menjadi krusial bagi para pemimpin. Dalam beberapa dekade terakhir, metode pengambilan keputusan telah berkembang pesat. Tradisionalnya, pengambilan keputusan sering kali didasarkan pada intuisi atau pengalaman individu. 

Namun, dengan kemajuan teknologi informasi, pendekatan berbasis data semakin banyak digunakan. Big data, yang merujuk pada kumpulan data yang sangat besar dan kompleks, memungkinkan organisasi untuk menganalisis informasi secara mendalam dan membuat keputusan yang lebih terinformasi. Penggunaan big data dalam pengambilan keputusan tidak hanya meningkatkan akurasi, tetapi juga memungkinkan organisasi untuk mengidentifikasi pola dan tren yang mungkin tidak terlihat sebelumnya. Salah satu metode yang sering digunakan dalam pengambilan keputusan adalah Analisis Data. alat yang membantu pengambil keputusan untuk menilai keuntungan dan kerugian dari suatu kegiatan atau tindakan sebelum diimplementasikan. 

Meskipun Analisis Data menawarkan banyak keuntungan, ada juga tantangan yang harus dihadapi. Salah satu tantangan utama adalah keakuratan data yang digunakan dalam analisis. Data yang tidak akurat atau tidak lengkap dapat menghasilkan keputusan yang salah, yang pada gilirannya dapat merugikan organisasi. Selain itu, asumsi yang digunakan dalam menghitung tingkat diskonto dan memprediksi biaya serta manfaat di masa depan bisa saja salah atau berubah seiring waktu, yang dapat mempengaruhi hasil analisis secara signifikan. Aspek etika juga menjadi perhatian penting dalam pengambilan keputusan. Keputusan yang diambil tidak hanya berdampak pada kinerja organisasi, tetapi juga pada kesejahteraan semua pemangku kepentingan yang terlibat, termasuk karyawan, pelanggan, dan masyarakat. 

Oleh karena itu, pemimpin harus memastikan bahwa setiap keputusan yang diambil sejalan dengan nilai-nilai dan prinsip etika yang berlaku dalam organisasi. Pertimbangan etika ini mencakup dampak keputusan terhadap lingkungan dan masyarakat, serta memastikan bahwa keputusan tersebut tidak hanya berfokus pada keuntungan finansial jangka pendek. Dalam konteks ini, gaya kepemimpinan juga mempengaruhi cara pengambilan keputusan. Pemimpin dengan gaya yang berbeda akan mengevaluasi informasi yang sama dan menghasilkan keputusan yang berbeda. Kualitas pemimpin, termasuk kekuasaan, kewibawaan, dan kemampuan untuk mempengaruhi serta memotivasi bawahan, sangat penting untuk memastikan bahwa keputusan yang diambil dapat diterima dan dilaksanakan. Secara keseluruhan, pengambilan keputusan dalam organisasi adalah proses yang kompleks dan krusial yang memerlukan kombinasi keahlian, pemahaman terhadap dinamika tim, dan kemampuan komunikasi. Dengan memahami berbagai model dan teknik pengambilan keputusan, serta mempertimbangkan faktor-faktor etis, organisasi dapat mencapai hasil yang optimal dan berkelanjutan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi lebih dalam tentang pengambilan keputusan di era digital, dengan fokus pada penggunaan big data, analisis biaya-manfaat, dan pertimbangan etika dalam proses tersebut.  

Pengambilan keputusan (decision making) merupakan proses untuk mengevaluasi dan memilih suatu opsi. Keputusan diambil setelah mempertimbangkan berbagai perhitungan dan opsi yang tersedia. Sebelum menentukan pilihan, pembuat keputusan akan melalui beberapa langkah, yang meliputi identifikasi masalah utama, penyusunan alternatif pilihan, dan akhirnya memilih keputusan yang paling tepat. Secara umum, pengambilan keputusan telah dijelaskan oleh berbagai ahli, di antaranya: 

  1.  G.R. Terry menyatakan bahwa pengambilan keputusan merupakan proses pemilihan yang didasarkan pada kriteria tertentu dari sejumlah alternatif yang ada.
  2. Claude S. George, Jr berpendapat bahwa sebagian besar manajer melakukan proses pengambilan keputusan melalui pemikiran yang mencakup pertimbangan dan pemilihan antara alternatif yang tersedia.
  3. Horold dan Cyril O’Donnell mengartikan pengambilan keputusan sebagai proses memilih alternatif yang akan dijadikan dasar untuk bertindak. 
  4. P. Siagian menyebutkan bahwa pengambilan keputusan adalah pendekatan sistematis untuk menangani masalah, yang melibatkan pengumpulan fakta dan data penelitian tentang alternatif serta tindakan yang mungkin diambil.
  5. James A. F. Stoner mendefinisikan pengambilan keputusan sebagai proses yang digunakan untuk memilih suatu tindakan sebagai solusi dalam menyelesaikan masalah.

Model Pengambilan Keputusan 

Ketika melakukan pengambilan keputusan membutukan penggunaan model yang dapat menentukan keputusan yang awalnya tanpa melalui perhitungan menjadi keputusan yang penuh dengan perhitungan. Macam-macam model pengambilan keputusan: 

  1. Model Kuantitatif Model Kuantitatif adalah jenis model yang digunakan untuk membuat serangkaian asumsi yang tepat dalam konteks hubungan matematis. Model ini dapat berupa persamaan, analisis, atau instruksi komputer berupa program-program. Ciri utama dari model ini ditentukan oleh asumsi-asumsi yang ada, serta kesimpulan yang dihasilkan sebagai konsekuensi logis dari asumsi-asumsi tersebut, tanpa mempertimbangkan aspek dunia nyata (prakteknya) atau permasalahan yang dimaksudkan untuk diselesaikan melalui model tersebut. 
  2. Model Kualitatif Model kualitatif adalah model yang dibangun berdasarkan asumsi-asumsi dengan tingkat ketepatan yang lebih rendah dibandingkan dengan model kuantitatif. Model ini memiliki ciri khas, yaitu menggambarkan kesimpulan yang berasal dari kombinasi asumsiasumsi tersebut, dengan mempertimbangkan elemen-elemen yang lebih bersifat subjektif. 

Menurut Robert D. Spech, dalam analisis kebijakan pengambilan keputusan, terdapat enam kategori model sebagai berikut: 

  1. Model Matematika Model matematika menggunakan teknik-teknik seperti pemrograman linier (linear and dynamic programming), teori jaringan (network theory), dan lainnya. Komputer berfungsi sebagai alat bantu perhitungan, bukan sebagai simulator atau tiruan yang memiliki peran utama. Oleh karena itu, model matematika menjadi faktor kunci dalam proses penyelesaian kebijakan dan pengambilan keputusan. 
  2. Model Simulasi Komputer Model ini merupakan bentuk simulasi dari situasi nyata, yang dibuat dengan peralatan dan ukuran yang persis sesuai dengan kondisi aslinya. 
  3. Model Permainan Operasional Model permainan operasional melibatkan elemen manusia yang berperan sebagai pengambil keputusan. Dalam model ini, manusia menggunakan informasi yang diberikan oleh komputer atau video game untuk menyelesaikan masalah yang disajikan.
  4. Model Verbal Model verbal merupakan model pengambilan keputusan yang menggunakan analogi, yakni membandingkan dua hal yang berbeda namun memiliki kesamaan dalam beberapa aspek. 
  5. Model Politik Model politik menggambarkan pengambilan keputusan yang berasal dari hasil negosiasi atau tawar-menawar antara individu-individu yang memiliki kepentingan, di mana mereka memanfaatkan instrumen pengaruh yang ada. 
  6. Model Anarki Model ini digunakan ketika tingkat ketidakpastian teknis atau konflik sangat tinggi. Keputusan diambil berdasarkan kesempatan dan waktu yang tersedia ketika ada masalah, partisipan, dan pilihan yang tepat. Solusi untuk masalah tersebut dipilih oleh partisipan yang memiliki waktu dan energi untuk melakukannya. 

Teknik pengambilan keputusan 

  1.  Pendekatan Pengambilan Keputusan Kuantitatif dan Kualitatif Secara umum, terdapat dua pendekatan dalam pengambilan keputusan, yaitu pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pendekatan kualitatif mengandalkan penilaian subjektif terhadap suatu masalah. Pendekatan ini didasarkan pada analisis sosial nonmatematis yang tidak melibatkan perhitungan numerik, namun keputusan yang dihasilkan tetap memiliki kualitas yang mendekati ilmiah. 

Sementara itu, pendekatan kuantitatif berfokus pada penilaian objektif yang didasarkan pada model matematis. Menurut T. Hani Handoko (2008) dalam Haudi (2021), metode kuantitatif dalam pengambilan keputusan dikenal dengan teknik ilmu manajemen (management science) dan riset operasi (operations research). Riset operasi bertujuan untuk menggambarkan, memahami, dan memperkirakan perilaku sistem kompleks dalam kehidupan manusia, dengan tujuan menyediakan informasi yang akurat sebagai dasar pengambilan keputusan. Metode kuantitatif, atau riset operasi, digunakan untuk membantu dalam pengambilan keputusan yang berhubungan dengan operasi. 

  1. Teknik Partisipatif Teknik partisipasi dalam pengambilan keputusan adalah pendekatan yang melibatkan individu atau kelompok dalam proses pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan partisipatif merupakan suatu metode untuk memilih satu alternatif dari berbagai pilihan yang ada, yang dilakukan melalui musyawarah dan secara demokratis, dengan tujuan untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya. 

Tujuan dari penerapan teknik pengambilan keputusan partisipatif ini adalah untuk meningkatkan akuntabilitas serta mempermudah pembagian tanggung jawab dalam pengambilan keputusan kepada orang lain. Pendekatan ini memiliki potensi untuk meningkatkan kualitas keputusan, mempermudah penerimaan dan pelaksanaan keputusan, meningkatkan semangat moral staf, memperkuat komitmen dan kerja tim, membangun rasa saling percaya, serta membantu staf dan administrator dalam mengembangkan keterampilan baru.

Pengambilan Keputusan Berbasis Data di Era Digital 

Big Data adalah istilah yang mendeskripsikan mengenai volume besar data, baik terstruktur maupun tidak terstruktur. Big data mempunyai ciri-ciri meliputi volume yang besar, kecepatan dalam menghasilkan data, dan keragaman jenis data. Implementasi Big Data dalam pengambilan kepuusan melibatkan pengumpulan data, analisis data, dan pemanfaatan data berskala besar untuk meningkatkan pengambilan keputusan. Dalam penggunaan Big Data untuk perumusan keputusan, diagram Big Data dapat digunakan untuk memvisualisasikan data yang terkait dengan keputusan. Dengan demikian, diagram Big Data dapat membantu dalam menganalisis hubungan antara variabel-variabel yang terkait dengan kebijakan dan membuat prediksi yang lebih akurat. Analisis Big Data dalam penggunaan Big Data untuk perumusan keputusan melibatkan penggunaan teknologi dan algoritma untuk mengidentifikasi pola dan trend dalam data besar. Analisis ini dapat membantu dalam membuat keputusan yang lebih informasi dan efektif dalam pengelolaan sumber daya, pengembangan infrastruktur, dan pengawasan kualitas lingkungan. 

Pengambilan keputusan dalam berbagai kondisi

Pengambilan keputusan dalam berbagai kondisi mencakup beberapa aspek penting yang mempengaruhi cara pemimpin membuat keputusan. Situasi yang kompleks dan ambigu sering kali menyulitkan pemimpin untuk menentukan kebenaran atau memilih opsi terbaik, sehingga mereka harus mempertimbangkan berbagai alternatif dan konsekuensi yang mungkin timbul. Dalam menghadapi dilema, keputusan yang diambil dapat berdampak merugikan bagi organisasi, sehingga penting untuk melibatkan pendapat anggota tim dan memilih opsi dengan risiko negatif paling minimal. Berbagai teknik, seperti Teknik Partisipatif, Teknik Delphi, dan Teknik Brainstorming, dapat diterapkan untuk mendukung proses pengambilan keputusan dengan mengumpulkan informasi dan perspektif yang berbeda. Selain itu, pemimpin harus mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang cepat, memastikan keputusan yang diambil fleksibel dan responsif terhadap dinamika yang terjadi. Aspek manusia, seperti pemahaman terhadap dinamika tim dan kemampuan komunikasi, juga memainkan peran penting, di mana pemimpin perlu menjelaskan alasan di balik keputusan dengan cara yang mudah dipahami untuk mendapatkan dukungan dari anggota tim. Secara keseluruhan, pengambilan keputusan dalam berbagai kondisi memerlukan pendekatan sistematis yang mempertimbangkan kompleksitas situasi, risiko, teknik yang digunakan, adaptasi terhadap perubahan, dan aspek manusia untuk mencapai hasil optimal dalam organisasi.

Kepemimpinan dalam pengambilan keputusan 

Kepemimpinan dalam pengambilan keputusan memiliki keterkaitan yang erat dan merupakan aspek penting dalam organisasi. Proses pengambilan keputusan melibatkan langkah-langkah seperti identifikasi masalah, pengembangan alternatif, pemilihan solusi terbaik, dan implementasi keputusan, di mana pemimpin harus mampu memfasilitasi dan menyampaikan keputusan kepada anggota organisasi. Keputusan yang diambil bervariasi berdasarkan tingkat kepemimpinan, dengan keputusan strategis di tingkat manajemen tertinggi, teknis di tingkat menengah, dan operasional di tingkat terendah. Gaya kepemimpinan juga mempengaruhi cara pengambilan keputusan, di mana pemimpin dengan gaya berbeda akan mengevaluasi informasi yang sama dan menghasilkan keputusan yang berbeda. Kualitas pemimpin, termasuk kekuasaan, kewibawaan, dan kemampuan untuk mempengaruhi serta memotivasi bawahan, sangat penting untuk memastikan bahwa keputusan yang diambil dapat diterima dan dilaksanakan. Selain itu, keakuratan keputusan bergantung pada informasi yang memadai, dan pemimpin perlu mempertimbangkan semua faktor yang relevan serta beradaptasi dengan perubahan lingkungan untuk memastikan kelangsungan dan kinerja organisasi. Secara keseluruhan, pengambilan keputusan dalam kepemimpinan adalah proses kompleks dan krusial yang memerlukan kombinasi keahlian, pemahaman terhadap dinamika tim, dan kemampuan komunikasi untuk mencapai hasil optimal dalam organisasi. Dengan wawasan yang diperoleh dari data analytics, LPM dapat merancang berbagai strategi peningkatan mutu, seperti:

Perbaikan Kurikulum: Jika banyak mahasiswa mengalami kesulitan dalam mata kuliah tertentu, maka kurikulum dapat direvisi agar lebih sesuai dengan kebutuhan mahasiswa dan industri. perubahan kurikulum yang dilakukan untuk menyempurnakan kekurangan dan menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Alasan perbaikan kurikulum: Ketidaksesuaian kurikulum dengan kompetensi lulusan yang dibutuhkan masyarakat, Perkembangan IPTEKS, Perubahan kondisi masyarakat, Perubahan kebijakan pendidikan, Memenuhi tuntutan perubahan zaman.  Tujuan perbaikan kurikulum: Materi pendidikan tetap relevan dan mutakhir, Sesuai dengan kebutuhan peserta didik, Sesuai dengan perkembangan zaman, Memenuhi tuntutan standar pendidikan nasional dan internasional. 

Langkah-langkah perbaikan kurikulum Analisis kebutuhan, Evaluasi kurikulum yang ada. penyesuaian terhadap standar pendidikan nasional dan internasional dan Memberikan ruang kreatif kepada dosen dalam mengimplementasikan kurikulum kemudian menata kompetensi yang tidak dibatasi oleh pemenggalan taksonomi proses berpikir, Hasil perbaikan kurikulum Penataan kompetensi Sikap Spiritual dan Sikap Sosial pada semua mata pelajaran Koherensi dan penyelarasan dokumen.

Peningkatan Layanan Akademik: Jika survei menunjukkan ketidakpuasan terhadap layanan administrasi, langkah perbaikan dapat segera diambil. Perguruan tinggi sebagai salah satu bentuk penyedia jasa yang melibatkan tingkat interaksi yang tinggi antara penyedia dan pemakai jasa, menurut Tjiptono dan Diana (2003: 27) terdapat lima kriteria penentu kualitas jasa layanan, yaitu kehandalan (reliability), daya tanggap (responsiveness), jaminan (assurance), perhatian individu (empathy), dan bukti fisik (tangible). Pertama, kehandalan yaitu kemampuan dalam memberikan pelayanan yang dijanjikan dengan segera dan tepat waktu, akurat, dan memuaskan. Kedua, daya tanggap yaitu kesediaan para staf untuk membantu para pelanggan dan memberikan pelayanan dengan tanggap. Ketiga, jaminan yaitu mencakup kemampuan, kesopanan, dan sifat dapat dipercaya yang dimiliki para staf perguruan tinggi (staf pengajar, asisten, dan staf administrasi) bebas dari bahaya, resiko, atau keragu-raguan. Keempat, empati meliputi kemudahan dalam melakukan hubungan, komunikasi yang baik, dan memahami kebutuhan para pelanggan seperti kemudahan dosen untuk dihubungi baik di ruang kerja, via telepon, e-mail, dan sebagainya. Terakhir ke lima, adanya bukti fisik yang meliputi fasilitas fisik, perlengkapan, staf administrasi dan pengajar, serta sarana komunikasi. Komponen kualitas jasa pelayanan pada industri jasa pendidikan ini tidak cukup hanya sekedar pada macam atau jenis pelayanan yang diberikan, tetapi juga sangat tergantung pada proses pengelolaan dan pemberian pelayanan

Konsep jasa layanan lebih menekankan aspek praktek, kebijakan dan prosedur layanan sebuah organisasi, sehingga manajemen mutu layanan dalam organisasi pendidikan memiliki komitmen untuk mencapai kepuasan pelanggan pendidikan. Sebagai paradigma manajerial baru, manajemen mutu layanan telah banyak diterapkan dalam lembaga-lembaga pendidikan. Dalam pelaksanaannya telah menempatkan pandangan bahwa produk pendidikan adalah berbentuk jasa layanan pendidikan yang diberikan oleh pengelola pendidikan kepada pelanggan sesuai standar mutu. Beberapa definisi TQM (Total Quality Management) seperti Parzinger &Nath (2000) menjelaskan TQM as management process and institusional-wide process to instill a culture of continous improvement in an institutional to ensure that the institution consistently meets and exceeds custumer requirement. Pendapat ini juga didukung oleh Senthil et al (2001) and Selladural (2002) mendefinisikan bahwa TQM sebagai a continuous management process that aims at quality improvement in all processes and activities in institutions. The ultimate goal of TQM is to establish a management system and institutional culture that ensure custumer satisfaction and never-ending continuous improvement of all institutional processes. Dalam dua definisi tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa TQM merupakan proses manajemen suatu lembaga yang mengutamakan perbaikan kualitas baik dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan yang bertujuan untuk dapat memenuhi kepuasan stakeholder yang terlibat dalam lembaga pendidikan tersebut.

Adapun upaya peningkatan mutu layanan akademik perguruan tinggi dapat dilihat dari mutu perencanaan layanan akademik perguruan tinggi dilakukan dengan menempuh langkah-langkah strategis meliputi pembentukan tim, pengumpulan data (diagnosis), perumusan Renstra (peletakan dasar filosofis, perumusan visi dan misi, tujuan dan nilai, analisis situasi, perumusan kebijakan strategis, perumusan rencana pengembangan jangka panjang, perumusan strategi pembiayaan, dan perumusan pengendalian strategis), pembahasan, dan sosialisasi. Pengorganisasian layanan akademik sebagaimana dikemukakan pada bagian temuan ditandai dengan pembentukan organisasi/unit-unit kerja yang ditugaskan untuk melaksanakan, mengevaluasi, dan memperbaiki pelaksanaan mutu akademik. Selanjutnya diikuti dengan penempatan personil yang dianggap mampu dan cakap untuk mengemban tugas tersebut. Unit atau lembaga/badan yang dibentuk tersebut selanjutaya merumuskan dokumen-dokumen mutu, seperti; Manual Akademik, Standar Akademik, Kebijakan Akademik, Manual Mutu, dan Standar Operating Procedure (SOP) baik pada level Universitas maupun Fakultas.Penempatan personil pada unit/lembaga yang umumnya mempertimbangkan aspek kapabilitas menunjukkan keseriusan Perumusan dan penetapan dokumen mutu, seperti manual mutu, kebijakan mutu, standar mutu, standar operating procedure (SOP), dan lainnya, mengindikasikan adanya keinginan Lembaga untuk membuat aturan main yang dapat dipedomani bersama serta menciptakan sistem yang mendukung peningkatan mutu layanan juga.

Pada aspek layanan bimbingan akademik merupakan layanan yang tidak hanya mengandung unsur pengayaan pengetahuan, namun juga layanan psikis untuk meningkatkan motivasi untuk berprestasi. Temuan di lapangan terkait dengan bimbingan administratif menunjukkan bahwa layanan ini belum berjalan optimal disebabkan oleh faktor -faktor baik yang sifatnya aturan yang kurang diikuti dengan tindakan sangsi, maupun motivasi dan komitmen dosen pembimbing. dengan belum efektifnya layanan bimbingan skripsi berhubungan erat dengan faktor penguasaan dosen terhadap metodologi penelitian, komitmen untuk menjalankan tugas sebagai pembimbing secara maksimal, aspek pemerataan. sehingga keberadaan  layanan belum memberikan kontribusi maksimal bagi peningkatan pengetahuan mahasiswa terhadap sebuah subjek. tentang mutu layanan akademik pada perguruan tinggi menemukan bahwa pengawasan mutu layanan akademik pada level jurusan terhadap proses pembelajaran dilakukan dalam bentuk pengontrolan terhadap rekaman perkuliahan/daftar hadir dosen dan mahasiswa dan penilaian kompetensi dosen oleh mahasiswa.

Perencanaan pada hakikatnya adalah merupakan aktivitas yang berorientasi kedepan.Perguruan Tinggi memiliki tradisi yang sama yaitu membentuk tim yang terdiri dari para ahli dan perwakilan fakultas yang diamanatkan untuk merumuskan rencana strategis 5-10 tahun kedepan. Melihat model kerja Tim Renstra dapat dikategorikan dalam tipe task team (Lewis and Smith, 1994: 193-194), terdiri dari orang-orang dari satu atau lebih wilayah fungsional, dibentuk untuk mengatasi persoalan tertentu atau sejumlah persoalan dan kemudian dibubarkan. Anggota tim ini dipilih berdasarkan latar belakang dan pengalaman. Keanggotaan dan tugas-tugas diberikan oleh manajemen. Terry (1993:15) menyatakan efektif tidaknya suatu pelaksanaan manajemen juga dipengaruhi oleh ada tidaknya suatu pelaksanaan tim dalam manajemen tersebut Okland, J.S (1989: 236) Dalam penyelenggaraan suatu organisasi atau kegiatan yang terorganisasi, penetapan mutu merupakan upaya yang sangat penting karena mutu kinerja sering menentukan kelangsungan organisasi atau kegiatan yang bersangkutan. 

Penetapan mutu merupakan hal yang sulit. Hal ini antara lain disebabkan: (a) mutu merupakan suatu konsep evaluasi yang subjektif karena selalu dipengaruhi oleh faktor sikap; (2) mutu merupakan fungsi dari maksud dan tujuan dasar dari organisasi atau kegiatan yang bersangkutan. Menurut Anderson (1972), struktur adalah susunan berupa kerangka yang memberikan bentuk dan wujud, dengan demikian akan terlihat prosedur kerjanya. Dalam organisasi pemerintahan, prosedur merupakan sesuatu rangkaian tindakan yang ditetapkan lebih dulu, yang harus dilalui untuk mengerjakan sesuatu tugas. Sementara itu dalam konsep lain dikatakan bahwa struktur organisasi juga dapat diartikan sebagai suatu hubungan karakteristik-karakteristik, norma-norma dan pola-pola hubungan yang terjadi di dalam badan-badan eksekutif yang mempunyai hubungan baik potensial atau nyata dengan apa yang mereka miliki dalam menjalankan kebijaksanaan (Van Meter dan Van Horn dalam Winarno 1997). Pengertian ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Robbins (1995) bahwa struktur organisasi menetapkan bagaimana tugas akan dibagi, siapa melapor kepada siapa, mekanisme koordinasi yang formal serta pola interaaksi yang akan diikuti.

Dukungan Akademik: Mahasiswa yang berisiko tinggi mengalami kegagalan akademik dapat diberikan bimbingan tambahan atau program mentoring. Sebagai lembaga pendidikan tinggi, Universitas memberikan suasana akademik yang kondusif bagi sivitas akademikanya, di dalamnya berlangsung proses pembelajaran yang utuh, baik di kelas, di ruang-ruang seminar bahkan di seluruh lingkungan kampus, tentu saja dengan dukungan fasilitas yang memadai. Dalam suasana akademik yang kondusif maka komunitas akademiknya memiliki ciri khas mengedepankan keberanian yang bertanggung jawab, kebebasan yang didasari nalar yang kokoh, dan terbuka dalam menerima informasi yang diperlukan dengan dilandasi keimanan dan ketaqwaan dalam mengemban amanah Tridarma perguruan tinggi yang meliputi; pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat.

Pelaksanaannya akan berhasil dengan baik, apabila didukung oleh iklim kampus yang kondusif yakni kampus yang bisa memberikan kepastian kualitas hasil belajar dalam suasana yang aman, damai, dan harmonis. Di satu sisi upaya yang dilakukan oleh manajemen kampus untuk menciptakan lingkungan belajar yang harmonis akan tercapai, jika mahasiswa memiliki pengalaman yang menyenangkan atau telah merasakan kondusifitas kebahagiaan bergaul dalam lingkungan kampus. Pengalaman beradaptasi dengan lingkungan kampus merupakan dimensi persepsi yang penting, sebab menurut Ivancevic et al. (2006) persepsi adalah proses di mana seorang individu memberikan arti pada lingkungan. Hal tersebut melibatkan pengorganisasian dan penerjemahan berbagai stimulus menjadi pengalaman psikologis. Dengan demikian pengalaman yang positif akan memberikan arti plus pada lingkungan, sebaliknya pengalaman tidak kondusif berpengaruh pada ketidaksetiaan mahasiswa pada lingkungan akademik. Sehubungan dengan semakin pentingnya lingkungan kampus, maka dibutuhkan suatu dukungan kemandirian mahasiswa dalam mensikapi atau bereaksi terhadap berbagai program kampus, Program bertujuan mengembangkan potensi khususnya mahasiswa, agar kelak setelah menyelesaikan studi mampu men-ciptakan peluang kerja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bantuan terkait lift:
0821-7697-5982

Humas UIN STS Jambi:
0811-7467-899